Depan arrow Catatan Media Massa arrow Polres Ringkus Penoda Agama
Polres Ringkus Penoda Agama Cetak E-mail

Sobek-Sobek Alquran dan Tidak Percaya Allah

KRAKSAAN - Kasus penodaan agama terjadi lagi di Kabupaten Probolinggo. Jazuli, 39, seorang warga Dusun Pengadangan RT 01/RW 03, Desa Kebonagung, Kraksaan, ditangkap polisi pada Kamis (30/7) malam. Ia disangka menodai agama dengan cara menyobek-nyobek Alquran, mendudukinya, dan menganggap Islam dan Allah itu tidak ada.

Penangkapan tersangka itu dilakukan sekitar pukul 23,00, WIB. Jazuli dijemput paksa di rumahnya lalu dikeler ke Mapolres Probolinggo untuk menjalani pemeriksaan. Aksi penangkapan itu dilakukan petugas secara rapi, tanpa menimbulkan keributan warga sekitar.

Dari informasi yang dihimpun, penangkapan lelaki beranak lima itu didasarkan atas laporan masyarakat Kraksaan. Jazuli sudah meresahkan warga sekitar, melecehkan dan menodai agama. "Warga sekitar dan Kraksaan pada umumnya sudah banyak yang tahu siapa Jazuli itu. Dia sudah melecehkan agama," kata Sahlal Haryadi, seorang warga Desa Kalibuntu, Kraksaan, yang juga ikut melapor ke mapolres malam itu.

Atas laporan masyarakat, polisi langsung bergerak cepat. Puluhan personel dikerahkan ke rumah Jazuli. Kapolsek Kraksaan AKP Bambang Sukarno malam itu juga ikut turun ke rumah Jazuli.

Setelah dijemput paksa, Jazuli dibawa ke mapolres untuk menjalani pemeriksaan. Lelaki itu diperiksa oleh penyidik Aiptu Mustadji, di ruang Kanit Idik III.

Menurut Kabag Ops Kompol Hadi Prayitno, dari hasil pemeriksaan sementara, Jazuli belajar ilmu kejawen di Malang. Dia juga belajar ilmu Raja Yoga di Bali.

Dalam keyakinannya, Jazuli menganggap Alquran itu ada tiga. Yakni Alquranul Karim, Alquranul Jamik, dan Alquranul Majid. "Kata dia, Alquranul Karim itu adalah kitab Alquran yang dipegang umat Islam pada umumnya. Kalau Alquranul Jamik adalah Alquran yang ada dalam diri Jazuli. Sedangkan Alquranul Majid adalah Alquran yang sudah diaplikasikan pada masing-masing manusia," terang mantan Kasatreskrim Polresta Probolinggo itu.

Selain itu, salat yang diterapkan Jazuli tidak sama dengan umat Islam pada umumnya. "Dia kalau salat hanya cukup memejamkan mata dan konsentrasi. Itu sudah dianggap salat. Itu yang melanggar syariat Islam," kata Kabag Ops. malam itu.

Tindakan dan ajaran lain yang menyimpang dan dilakukan Jazuli adalah menyobek-nyobek Alquran, lalu mendudukinya. Di sela pemeriksaan malam itu, petugas memberi waktu kepada wartawan untuk meminta keterangan langsung dari Jazuli.

Jazuli mengaku menyobek dan menduduki sebagian surat Alquran (Surat Yasin) hanya untuk bergurau. "Saya hanya gurau. Kenapa terjadi seperti ini?" tuturnya bernada menyesal.

Dia juga mengaku bahwa tidak punya murid. Juga tidak punya musala di rumahnya. "Saya hanya belajar buku Anan Krisna. Dari situ saya memaknai agama," jelas Jazuli yang sehari-harinya bekerja sebagai tukang bengkel sepeda motor dan jual ban sepeda onthel itu.

Ada empat orang yang sempat bertamu langsung ke rumah Jazuli dan melihat ulahnya. Yakni Asmuni, Daeng Agus Hidayat, Zainul Hasan, dan M Qosyim. Mereka ini warga Desa Bulu dan Kalibuntu, Kraksaan.

Mereka menceritakan, bahwa Jazuli itu sudah berani menduduki Alquran. Menganggap Allah dan Islam itu tidak ada. Bahkan, agama Islam itu adalah Jazuli itu sendiri.

Agus, misalnya, bercerita bahwa saat dia datang bertamu, Jazuli sedang menduduki Alquran dengan pantatnya. "Allah adalah dirinya sendiri. Itu saya punya rekaman visual dan rekaman pembicaraannya. Kalau sudah begitu kan sudah menodai agama. Halal darahnya menurut agama dan tidak bisa dibiarkan orang yang seperti itu," tegasnya didampingi teman-temannya.

Sementara, saat Radar Bromo mengunjungi rumah Jazuli beberapa saat setelah lelaki itu diamankan polisi, rumah tersebut tampak lengang. Ada Junaidi, 55, orang tua Jazuli yang mengaku heran mengapa anaknya dibawa polisi.

"Saya tidak tahu apa masalahnya. Anak saya itu sudah 3 tahun mengalami lumpuh kaki. Dan dia bekerja sebagai bengkel di sini. Istrinya sekarang tidak ada di rumah, lagi ke Malang, pergi ke keluarganya meninggal dunia," akunya.

Anaknya itu, kata Junaidi, tidak pernah bertingkah yang aneh-aneh. "Dia anak saya yang ke ketiga dari enam bersaudara. Saya heran, mengapa anak saya dibawa polisi," kata Junaidi. (rb)

 
< Sebelumnya   Berikutnya >
Copyright © 2009 Website Kabupaten Probolinggo
Bagian Komunikasi dan Informatika Setda Kabupaten Probolinggo
Redaksi : Jalan Raya Dringu 901 Dringu Probolinggo Jatim 67271
Telp: 0335-421294 Fax: 0335-420604 - email : Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya